Tekan Angka Stunting, FKM UTU dan BKKBN Aceh Gelar Sosialisasi Ketahanan Keluarga Bersama Mitra
  • UTU News
  • 23. 10. 2020
  • 0
  • 298

MEULABOH - UTU | Angka stunting dan gizi buruk di Indonesia masih di atas toleransi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, toleransi WHO untuk gizi buruk adalah 10 persen dan stunting 20 persen. Sementara Indonesia masih 30 persen, dan angka stunting di Aceh masih cukup tinggi diatas rata-rata nasional.

Saat ini pemerintah terus berupaya menurunkan angka gizi buruk dan stunting. Bahkan Presiden Joko Widodo meminta agar program penurunan angka stunting dan gizi buruk di tengah pandemi Covid-19 diteruskan sebagai salah satu prioritas nasional.

Untuk mendukung program pemerintah dalam usaha  penurunan angka stunting dan gizi buruk di Aceh, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Teuku Umar bekerjasama dengan Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Aceh menyelenggarakan Sosialisasi ketahanan keluarga bersama mitra dengan tema "Turunkan angka stunting dan wujudkan keluarga berkualitas bersama FKM UTU", Rabu (21/10/2020).

Kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan di Aula Gedung Terintegrasi Kampus UTU dibuka secara resmi oleh Rektor UTU, Prof. Dr. Jasman J. Ma'ruf, SE., MBA. Kegiatan ini diikuti ratusan peserta dari kalangan mahasiswa UTU, Mitra kerja, OPD KB unsur undangan lainnya. Selain itu juga diikuti ratusan peserta secara daring melalui aplikasi zoom meetings.

Turut hadir mengisi materi pada kegiatan sosialisasi ini adalah Kepala BKKBN Republik Indonesia, Dr. dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K), Anggota Komisi IX DPR RI, Dr. H. Edi Wiryanto, S.KP., M.Kep, Kepala perwakilan BKKBN Provinsi Aceh Drs. Kahidal Kastri, M.Pd. Materi juga turut disampaikan oleh Bupati Aceh Barat, Ramli, MS.

Kepala Perwakilan BKKBN Aceh, Kahidal Kastri dalam laporannya menyampaikan Universitas Teuku Umar merupakan kampus yang terletak di jalur strategis bagian Barat Selatan Aceh, selain itu hanya kampus UTU yang memiliki FKM dibawah naungan Universitas Negeri di Aceh.

Sebelumnya UTU juga telah memiliki MoU dan MoA dengan BKKBN, "Jadi keberadaan kampus UTU sangat strategis dalam upaya pendidikan masyarakat di pantai Barat Selatan Aceh, tentang pencegahan gizi buruk, stunting dan lainnya." Katanya

Kepala BKKBN RI, Dr. Hasto Wardoyo menyatakan bahwa provinsi paling ujung barat Indonesia ini berada di urutan ke - 3 nasional tertinggi angka Stunting. ini satu kondisi yang sangat mengkhawatirkan, sehingga diperlukan peran aktif semua pihak untuk upaya pencegahan stunting terutama perguruan tinggi.

“Stunting adalah suatu kondisi yang ditandai ketika panjang atau tinggi badan anak kurang jika dibandingkan dengan umur. Atau mudahnya, stunting adalah kondisi di mana anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga menyebabkan tubuhnya lebih pendek ketimbang teman-teman seusianya,” ujar Hasto

Hasto menyebutkan, tugas BKKBN antara lain mengatur tentang kependudukan, agar dapat memperhatikan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) untuk meningkatkan masyarakat yang unggul, selain itu, BKKBN juga harus bisa memperhatikan keluarga berencana dengan kesehatan reproduksi serta memperhatikan pembangunan keluarga.

Oleh sebab itu, untuk meningkatkan SDM dan juga keluarga yang sejahtera, diperlukan pencegahan stunting, pencegahan ini juga dilihat dari kesehatan reproduksi. "Yang harus diperhatikan untuk mencetak generasi yang baik dan sehat yaitu kualitas bibit laki-laki". Jelasnya

Hasto Wardoyo menambahkan, stunting tidak hanya menghambat perkembangan tubuh saja, juga sangat berpengaruh pada perkembangan otak anak. Kasus stunting selain dipengaruhi oleh kesehatan reproduksi, juga disebabkan pola asah, asuh dan asih dari orang tua.

“Kami mengajak kepada semua pihak untuk memahami tentang stunting, sehingga semua masyarakat dapat mencegah, kami menyampaikan apresiasi kepada Universitas Teuku Umar yang telah peduli terhadap kasus tersebut, pendampingan dapat dilakukan dengan berbagai program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, yang merupakan tri dharma perguruan tinggi,’ ujarnya.

Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR RI, Dr. H. Edy Wuryanto dalam materinya menjelaskan program Bangga Kencana atau Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana.

Dijelaskannya ada perubahan strategi penggarapan program, dulu program difokuskan pada masalah kependudukan dan Keluarga Berencana (KB), sekarang lebih fokus pada pembangunan keluarga. Pada program Bangga Kencana ini keluarga menjadi entry point dalam intervensi program yang dilaksanakan BKKBN dan/atau SKPD Pengelola Program KB di daerah.

“Program ini diarahkan untuk bagaimana keluarga mempunyai rencana berkeluarga, punya anak, pendidikan, dan sebagainya. Sehingga, akan terbentuk keluarga-keluarga berkualitas nantinya,” ungkap Edy Wuryanto yang juga kader PDI Perjuangan.

Rektor Universitas Teuku Umar Prof. Dr. Jasman J. Ma'ruf, SE., MBA mengatakan, UTU telah mengambil penting dalam menangani kasus stanting, khususnya yang terjadi di Aceh. Hal tersebut dilakukan dengan melakukan kajian, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terutama melalui Fakultas Kesehatan Masyarakat. (Aduwina Pakeh / Humas UTU).

Komentar :

Lainnya :