Pembicara Seminar Internasional Fisip,
  • UTU News
  • 09. 10. 2018
  • 0
  • 98

MEULABOH – Para pembicara seminar internasional mengpresiasi keberadaan Universitas Teuku Umar (UTU) sangat tepat. Eksintensi UTU suatu keputusan yang sangat benar, dan sangat tepat. “UTU,  dalam figure Teuku Umar itu anti kolonialisme”, ujar TB. Massa.

Apresiasi itu antara lain disampaikan Dr. TB. Massa Djafar, (dari Unas Jakarta). TB. Massa adalah narasumber seminar internasional yang bertema, ““Pengelolaan Sumber Daya Pesisir Untuk Keberlangsungan Pembangunan Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir di Aceh”. Mederator seminar internasional dari pagi sampai siang hari adalah Dr. Afrizal Tjoetra, M. Si, sebagai Dosen Fisip UTU dan juga Ketua Komisi Informasi Aceh. Sedangkan moderator seminar yang dilanjutkan siang sampai sore hari yaitu Apri Rotin Djusfi, SH.,MH, sebagai Dosen dan Ketua Program Studi Ilmu Hukum Fisip-UTU.

TB. Massa mengatakan, masa depan Aceh itu kembali ke Laut. Negara, masyarakat, perguruan tinggi, swasta adalah sebagai suatu tim. Kerenanya, UTU harus meletakkan perguruan tinggi itu sebagai jantung perubahan. Karena yang mampu menterjehmahkan, merumuskan, mengkritik dan menkostruksikan tercapainya pembungunan seutuhnya hanya bisa dilakukan oleh perguruan tinggi. Efeknya, kalau hal ini bisa disepakati antara perguruan tinggi dan pemerintah,  daerah akan tumbuh maju dan bisa kendalikan bersama-sama.

Hal senada juga diutarakan Murry Darmoko, M, S.HI.,MA (dari Universitas Bhayangkara-Surabaya). Melalui Universitas Teuku Umar itu, dapat mewujudkan ketahanan pesisir yang kuat. Universitas juga harus berperan dalam mencegah pidana laut, dan perlu memikirkan bagaimana universitas dengan civitas akademikanya mampu mengahadpi bencana. Yang paling penting, setiap mahasiswa terutama yang hidup dipesisir itu harus paham tentang perikanan dan hukum-hukum mengenai laut. Mahasiswa sebagai masyarakat pesisir yang edukasinya tinggi harus memahami benar masalah pesisir dan hukum perikanan dan kelautan.  “UTU sebagai universitas yang dekat dengan pesisir harus membebaskan laut dari beberapa ancaman yaitu dari kekerasan (seperti bajak laut), sabotase dari tempat-tempat yang vital, eksploitasi (yang mengambil kekayaan laut kita)”, ujar Murry.

Sementara Dr. Zikri Bin Muhammad (dari University Malaysia Terengganu) mengatakan, Meulaboh, Aceh Barat masih cukup banyak sumber daya alam yang terpelihara. Untuk itu, letakkan bangunan itu dikawasan yang banyak potensi sumber alamnya. “Terengganu, Malaysia itu banyak potensi alam. Namun, sumber alam itu mengalir ke Kaula Lumpur. Bahkan, Terengganu terkenal dengan penyu dan sumber daya penyu telah dibudidayakan  menjadi sumber ekonomi bagi masayarakat.

Dekan Fisip UTU, Dr. Mursyidin, MA juga menyampaikan, tujuan dari seminar internasional itu nantinya dapat menelusuri dan mengamati proses keberlangsungan pembangunan kehidupan masyarakat pesisir, sehingga dapat ditindaklanjuti terhadap dampaknya untuk suatu kemajuan bagi roda kehidupan masyarakat yang berada dikawasan pesisir.

Pada session pertama, dari pagi hingga siang hari, pembicara utama (keynote speakers), dan narasumber seminar internasional disampaikan oleh  Prof. Madya Dr. Ruhani Binti Mat Min (dari University Malaysia Terengganu), Dr. Nirzalin, MA (dari Universitas Malikussaleh), Dr. Mr. Abdul Razak Panea Malae (dari Walailak University-Thailand). dan Dr. TB. Massa Djafar (Unas-Jakarta).

Dan pada session kedua, seminar internasional dimulai siang sampai sore hari, 9  Oktober 2018, dengan pembicara adalah Dr. Kamaruzzaman BA, MA (dari UIN Ar-Raniry-Banda Aceh), Murry Darmoko, M, S.HI.,MA (dari Universitas Bhayangkara-Surabaya), dan Dr. Zikri Bin Muhammad (dari University Malaysia Terengganu). Seminar internasional yang dilaksanakan jajaran Fakultas Fisip-UTU berlangsung selama dua hari. Seminar tersebut berlanjut satu hari lagi, 10 Oktober 2018, di Aula Utama UTU. (Zakir)

Lainnya :