Dosen FISIP UTU Teliti Budaya Tionghoa di Barat Selatan Aceh
  • UPT_TIK
  • 08. 01. 2020
  • 0
  • 515

MEULABOH – Dua Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Teuku Umar (FISIP-UTU) meneliti budaya masyarakat Tionghoa yang sudah menetap permanen di Wilayah Barat Selatan Aceh (Barsela), Provinsi Aceh. Ruang lingkup penelitian dilakukan pada empat kabupaten di Barsela yaitu Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya dan Aceh Selatan.

Penelitian dengan judul “Konsep Akulturasi Budaya Mayarakat Tionghoa Ditinjau Dari  Komunikasi  Antar Budaya (Study Kasus Etnis Tionghoa di Wilayah Barat Selatan Aceh), dilakukan oleh Drs. Muzakkir, MA (ketua) bersama anggotanya Said Fadhlain, MA. 

Muzakkir menjelaskan, tujuan penelitian dengan menggunakan dana hibah internal Universitas Teuku Umar (UTU) itu untuk mengetahui proses akulturasi budaya masyarakat Tionghoa ditinjau dari  komunikasi antar budaya,  faktor-faktor apa saja yang mendukung proses akulturasi serta hambatan dalam proses akulturasi masyarakat Tionghoa ditinjau dari sisi komunikasi antar budaya. Sementara manfaat dari penelitian ini sebagai usaha untuk memberikan sumbangan pemikiran dan konsep bagi pembangunan ilmu komunikasi, khususnya bagi pengembangan penelitian kajian- kajian komunikasi antar budaya.  Dan diharapkan dapat dipahami dengan baik oleh  masyarakat muslim dalam melaksanakan prosesi budaya terutama bagi masyarakat Aceh secara khusus. 

Hasil penelitian menunjukkan pengaruh budaya Tionghoa yang nyata dalam kehidupan bermasyarakat dapat dilihat dari sisi budaya peusijuek (menepung tawari) terdapat kesamaan budaya yang dipraktikkan etnis Tionghoa dengan masyarakat Aceh di Wilayah Barat Selatan. Namun, dari sisi budaya perkawinan,  perayaan hari raya, ada persamaan dan ada perbedaan. Intinya, proses komunikasi antar budaya yang didukung beberapa faktor yaitu bahasa, adaptasi dn silaturrami merupakan bentuk pengembangan kebudayaan etnis Tionghoa dengan masayarkat Aceh di Barat Selatan. Kedua etnis tersebut dapat menyerap nilai-nilai baru antara kebudayaan melalui proses akulturasi.

Orang Tionghoa yang tinggal di Aceh umumnya, khususnya yang berada Barat Selatan Aceh, sebahagian masih menampilkan perilaku dan budaya nenek moyang mereka, misalnya dari segi pakaian, sikap mereka dan kepercayaan mereka. Pakaian yang dikenakan orang Tionghoa sering seksi dan minim. Sedangkan etnis Aceh sering memakai pakaian islami. Perbedaan pakaian dalam masyarakat sangat menonjol apabila dilihat di pasar-pasar dan ditempat-tempat keramaian. Disamping itu, sikap etnis Tionghoa terhadap etnis Aceh kurang bersahabat dalam hal berbisnis.

Orang Tionghoa menganggap orang Aceh kurang mempunyai motivasi kerja yang tinggi. Disamping itu setiap sikap dan motivasi bisnis orang Tionghoa yang erat kaitannya dengan sistem kepercayaan serta visi bisnis etnis Tionghoa berbasis kekeluargaan sehingga semua orang Tionghoa harus berbisnis, karena itu ideologi serta falsafah etnis Tionghoa yang berbeda dengan masyarakat setempat.

Budaya Tionghoa yang berkembang di Barat Selatan Aceh (Barsela) merupakan suatu tradisi dan kebiasaan hidup dan berkembang dalam masyarakat Aceh. Tradisi atau kebiasaan dan kepercayaan nenek moyang nereka adalah cerminan kebudayaan Tionghoa yang berkembang sampai saat ini. Proses akulturasi sering terjadi pada kelompok-kelompok minoritas (etnis Tionghoa) yang secara budaya atau etnis berbeda dari masyarakat mayoritas (suku Aceh) di tempat mereka bermigrasi. Namun, proses akulturasi juga terjadi pada budaya masyarakat mayoritas yang mengadopsi unsur budaya interaksi di tingkat individu dan kelompok, baik secara langsung, melalui media, dan seni. Demikian juga prosesi peusijuek yang dilakukan oleh masyarakat Tionghoa yang beragama Budha, Hindu  dan Nasrani terdapat kesamaan yang dilakukan oleh masyarakat Aceh, khususnya Masyarakat Barat Selatan. (***)

Lainnya :